Hari itu Haji Ahmad bangun pagi dengan hati berdebar. Setelah berbulan‐bulan menunggu, berita resmi menyebutkan: tunjangan sertifikasi cair 21 Maret 2025. Bagi guru seperti dia—yang setiap hari bangun-pagi mengajar, memperbaiki papan tulis, dan mengoreksi tugas murid sampai malam—ini lebih dari sekadar uang.
Sejak sertifikasinya jadi awal tahun lalu, dia tak pernah berhenti berharap. Dari info GTK, dia selalu cek status SKTP, cek validasi rekening bank, takut tertahan administratif. Banyak guru di kampungnya masih gelisah menunggu rekening belum valid, SKTP belum terbit, atau data belum diperbaharui. Mereka khawatir jika tetap terlambat, banyak kebutuhan rumah yang harus ditunda.
Kemarin, istrinya memasak sederhana, karena mereka masih menyimpan sedikit uang—biaya listrik, cicilan motor, dan kebutuhan anak sekolah hampir selalu mengganggu. Tunjangan ini artinya bisa sedikit melunasi utang kecil, bisa beli buku anak, bisa lebih lega saat berbuka.
Di malam sebelum pencairan, Haji Ahmad shalat sunah, memanjatkan doa:
“Ya Allah, cepat lancarkan agar tidak jadi beban, semoga keikhlasan kami diterima, dan rezeki ini jadi keberkahan.”
Dan pagi itu, saat notifikasi masuk, “Transfer diterima”, jantungnya berdegup. Tak besar bagi sebagian orang, tapi bagi dia, itu adalah jawaban atas kesabaran. Allah membuktikan bahwa kejujuran dan kerja keras guru di negeri ini tidak dilupakan.
Tunjangan sertifikasi bukan sekadar angka di rekening. Ia adalah harapan, kepercayaan, dan penghargaan—untuk guru yang siang malam berjuang demi generasi. Jika kamu guru yang masih menanti, bersabarlah. Jika kamu non‐guru, ingatlah menghormati mereka bukan hanya dengan kata, tapi juga dukungan agar mereka mendapat haknya.



Hanya orang biasa yang ingin berbagi.
0 comments:
Post a Comment